Hello From theTambas’ Library

I love books. And I love seeing people reading books. And I especially love knowing parents who read books for their children or find time to read the books.

I collected some children book, and usually I put some review in my blog. And I think  I want to help any parents -even if there’s only very few- that want to look for books for their children.

Oh ya, please do remember reading book is a matter of preference , too. So one book that I consider good might just a so-so book for some people. I think it’s ok, cause I do believe every book is different in every reader’s mind. When 5 people reading the same book, those books will be differently digested by those 5 mind and souls.

Thank you, I hope you enjoy your tour here. And by the way, no, I don’t sell books.

 

Guess How Much I Love You

by Sam McBratney

Buku anak-anak pertama yang saya punya karena……beli pas masih gadis, saat rajin ke QB baik QB Kemang, QB Plaza Semanggi dan terutama QB Jalan Sunda. Belinya pake inden, karena awalnya lihat reviewnya di majalah temen. Harganya saat itu 85 rebu, dan datang setelah sebulan lebih deh ditelpon sama QB.

Love this book, dan ini buku yang awal awal saya bacakan selain seri Harimau Cilik (menyusul reviewnya) saat anak-anak masih bayi. Isi bukunya sih simpel banget, kayak ‘kompetitifnya’ anak kelinci dan induknya untuk nunjukin siapa yang paling besar rasa sayangnya.  Maaf fotonya keliatan keyboardnya difotonya di kantor mumpung jam istirahat hahahaa

Diawali pertanyaan si Little Nutbrown Hare sebelum tidur.

1the ultimate question sepanjang isi cerita ini, “Guess How Much I Love You?”

?????????????Dan seperti orang tua pada umumnya, pertanyaan begini kan retoris lah ya tapi kalo sama anak-anak kan tetap penting dan semua pertanyaan ya dijawab dengan baik kan.

Dan Litte Nurbrown Hare mulai nunjukin cara dia menggambarkan besarnya sayang dia ke Big Nutbrown Hare. Yang direspon oleh Big Nutbrown Hare dengan menunjukkan juga sebesar apa rasa sayangnya kepada Little Nutbrown Hare.

Berikutnya adalah cara cara deskripsi Little Nurbrown Hare menunjukkan sebesar apa rasa sayangnya, dan Big Nutbrown Hare menjawab dengan menunjukkan bahwa dia juga sangat menyayangi Little NutBrown Hare, dengan menggunakan ukuran yang dipakai Little Nutbrown Hare.

Kesannya kompetitif ya ahahaha, tapi saya sukaaaa karena menurut saya, ini cara Big Nutbrown Hare juga menanamkan ke kepala Little Nutbrown Hare bahwa dia dicintai. DAn caranya menjawab sama kreatifnya dengan cara Little Nutbrown Hare memberi pernyataan, kan.

?????????????All the way up to YOUR TOES *sambil gendong anaknya tinggi-tinggi*, yah gak sampe ngelempar sih ahahaha

?????????????Pas lagi membacakan buku ini, serunya bisa sambil pake gerakan dan gaya. Menunjukkan besar, lebar, atau tinggi. DAn bisa ikutan lompat segala.

?????????????Ikutan deh lompat tinggi dan lompat SEMAKIN TINGGI buat niruin si Big Nutbrown Hare hahahah

?????????????Pake analogi jarak juga.

?????????????tetep dibalas pake jarak yang lebih jauh lagi

?????????????Hahahah capek kan ya…. yang lebih capek si Little Nut Brown Hare dong ya, kan dia yang nyari nyari duluan baru nanti si Big Nutbrown Hare sih tinggal berusaha melampaui ihik.

?????????????Dan akhirnya, saat semakin ngantuk, Little Nutbrown Hare mikir sambil melihat ke langit yang gelap.

Kayaknya nggak ada yang  lebih jauh dari langit, deh…pikir dia.

“I love you right up to the moon,”

Kata Little Nutbrown Hare sambil menutup matanya, ngantuk. Dan tidak seperti tadi yang langsung membalas dengan ‘lebih sayang’ dirinya, Big Nutbrown Hare bijak bilang “Oh, that’s far,”

?????????????Big Nutbrown Hare ngomong begitu sambil menidurkan Little Nutbrown Hare, soothing words yang seakan menenangkan Little Nutbrown Hare bahwa kali ini dia nggak bisa ‘mengalahkan’ Little Nutbrown Hare.

?????????????Dan sambil memandangi Little Nutbrown Hare yang terlelap, dia tersenyum dan bilang, “I love you right up to the moon …and back,”

?????????????

Ah so sweet. I always find this so sweet.  Dan saya melihatnya bukan membandingkan soal ukuran sayang sih, bahwa orang tua lebih sayang dari anak, tapi lebih menggambarkan bahwa aku menyayangimu ‘lebih lama’ ya iyalah kan startnya lebih awal ortu menyayangi anak ya ahahaha, sejak masih di testpack ada tanda garis biru kan.

Yah at least 9,5 bulan lebih awal daripada anak menyayangi ortu lah ahahahah.

Battle Hymn of The Tiger Mother

Demi berusaha memenuhi target utama di janji pertama kali dulu blog ini dibuat maka setiap minggu harus ada postingan baru. Ini cheating lagi sih ahahaha soalnya  Review kali ini ngambil dari blog yang private, resensi tahun 2011 ahahaa tapi masih pas kok kalau tau bukunya. Ini aja keinget buku ini karena ini buku yang lagi saya baca ulang, karena hubby baru menyelesaikannya minggu lalu dan pas ngomongin beberapa hal dari sini, ada yang bikin saya kepengen baca ulang lagi.

Dan membacanya kedua kali, tetap menyenangkan. Apalagi karena sudah tau ini buku yang bagus, ya.

User comments

Nggak sia sia beli hardcover, tahan lama banget ini buku dan tetep enak dibaca lembarannya.

Here’s the review dr tahun 2011 (dan saya males edit ahahah). Potonya aja yang baru, kan bukunya pas dibawa.

Ini buku sebenarnya trend-nya udah lama banget, tapi baca review orang nggak tertarik samsek, bahkan setelah direview Ninit Yunita. Dan testimoni orang banyak yang kayaknya anti sama Tiger Mother ini ini (now I’m thinking, itu yang ngasih testimoni beneran baca bukunya atau mereview review-an orang?)
Tapi saat ke Periplus dan melihat buku ini dengan tulisan di depannya, saya langsung yakin ini buku bagus banget.

This is a story about a mother, two daughters and two dogs.
This was supposed to be a story of how Chinese parents are better at raising kids than Western ones.
But instead, it’s about a bitter clash of cultures, a fleeting taste of glory, and how I was humbled by a thirteen years old.

Saya jatuh cinta pada kalimat di depan cover itu.
Dan saya jatuh cinta pada cara Amy bertutur.
Juga pada Sophia and Lulu.
Juga pada Jed, of course. Dan pada Amy yang menurut saya sangat manusiawi.
Dan -oke singkirkan mellow-mellow nggak jelas saya most of the times- buku ini sukses bikin berkaca-kaca, almost di setiap babnya.
Menyikapi soal bagaimana ‘Western parents’ sering ‘bersenang-senang dan memberikan kebebasan berpikir pada anak-anaknya’, Amy berkomentar : It’s not that Chinese Parents don’t care about their children. Just the opposite. They would give up anything for their children. It’s just an antirely different parenting model.
Lalu salah satu komentar Amy  “There is nothing better to spend our money on than our children”
Dan di samping kerasnya dia ke anak-anak, penggambaran bagaimana hubungan Amy dan Lulu (yang benar-benar bikin gonjang ganjing rumah tangga Amy-Jed) benar-benar…natural dan otentik. Pengakuan Amy bagaimana mereka bertengkar hebat tapi kemudian peluk-pelukan lagi di tempat tidur sambil ngobrol ngalor ngidul, dan kemudian berubah saat masa-masa pemberontakan frontal Lulu yang bikin hubungan mereka ‘kering’ and somehow different, digambarkan dengan baik, dan bikin hati saya sebagai Ibu benar-benar naik turun.
Somehow I understand Amy very much, but yes I sympthatized for Lulu too.
Quote Amy yang aku stabilo-in segala :
1. You’re going top be great. When you’ve worked as hard as you have, you know you’ve done everything you can, and it doesn’t matter now what happens
2. No I don’t want you to be like me. I want to prepare you for the future.
3. I can’t tell you how many Asian kids I’ve met, who while acknowledging how oppresively strick and brutally demanding their parents were, happyly descrobed themselves as devoted to their parents and unbeliavably grateful to them, seemingly without a trace of bitterness or resentment. Here’s one thing I’m sure of : Western children are definitely no happier than Chinese ones.
Chapter Sack of Rice juga sukses bikin aku mewek pas bacanya di foodcourt Riau Junction. An image of Sophia racing home from school, arms full of books, flash into my head and I almost couldn’t take it. Itu kalimat Amy saat ‘berantem’ dengan Sophia -yang mana berantem sama Sophia itu jaraaaang sekali terjadi-
Hoalah, gimana si Amy lah ya, saya ngebayangin anak dia aja rasanya gimana ya….perasaan haru, bangga, but at the same time takut kalau kita melakukan  kesalahan karena anak kita kok bisa-bisanya seperti itu…so different with kids seusianya, yet I know it is good, but I’m just not sure is she happy gitu kan.
Dan chapter Red Square juga puncak mewek saya, saat Amy seperti ‘melepaskan’ Lulu, yang senengnya, ternyata saat dia mengira dia sudah melepaskan Lulu, ternyata banyak hal yang dia ajarkan sebagai didikan Chinese itu malah membuat Lulu memang selalu menjadi yang terbaik, di BIDANG APAPUN yang DICINTAINYA.
Seperti kata mamanya Amy, pendekatan ke Sophia dan Lulu seharusnya memang berbeda.

Chapter The Ending juga bikin senyum-senyum, and really lighten my heart.
Jed suami Amy juga mengkritik Amy soal mengeneralkan didikan Chinese and Western, which is true, tapi aku juga setuju dengan banyak prinsip Amy.
Oh ya ceritanya tentang Dogs menurutku termasuk yang meringankan buku ini, dan melihat Amy dari sisi yang lain.
Ah ini buku mending dibaca sendiri deh.
This is one book, yang setelah membacanya meringankan hati.
Berbeda banget dengan perasaan saya saat membaca komentar orang saat buku ini didiskusikan.
Jadi penasaran waktu itu acara Book Review ini sama emak-emak TUM di Kemang asik gak ya. Huhuhu waktu itu ada acara keluarga, jelas nggak bisa ke sana.
Highly recommended!

This entry was posted on June 29, 2015. 2 Comments

Owen’s Walk

by Karen Hill

Beuh terakhir ngisi bulan Oktober. Di mana janjiku mau posting minimal seminggu sekali, ya. Sebulan sekali aja nggak terwujud. Untung diingetin pas liat jurnal Lisa soal buku, baiklah kita coba konsisten buat mengisi ini, niatnya kan siapa tau bisa berguna. Agak ditahan kepengen kombur-kombur yang lainnya dulu, ye.

Buku ini buku anak yang berlatar belakang Kristen, karena memang di dalamnya ada pengenalan sederhana ayat-ayat alkitab dan bagaimana menggunakannya, yang dikemas di dalam petualangan Owen.

IMG_6716

Bukunya sampul hardcover, tapi dalamnya biasa. Oh ya hardcover dan sampul depannya kayak sampul beneran bisa dilepas, gitu

Dari awal saya sudah naksir buku ini karena kok kelihatan seru ya petualangan begitu. Beli ini dulu pas banget Ephraim lagi suka-sukanya sama Jake the Good Pirates yang ngomongin peta harta karun dsb. Makin seneng pas menyadari oh ini buku anak Kristen, ya. Boleh banget selingan dari baby bible nya, kan.

And I feel in love dengan kata-kata peruntukan dari pengarangnya, untuk cucunya (pas baca di bagian pengarang). Dan pantes aja lumayan oke, ternyata Karen Hill ini juga editor buku-buku Kristen karangan Max Lucado.

IMG_6717Walking alone in the woods can be scary. For Owen, following the path his father made for him is an adventure marked with pitfalls and wonderment. Along the way, Owen discovers God is always with him

“Don’t be afraid..You have everything you need….Your Father went ahead to make a path for you. Just stay on your Father’s path,” said Owen’s grandmother

Itu ringkasan cerita di sampul buku belakangnya.

Dimulai dari halaman-halaman awal Owen yang sangat suka bermain di rumah neneknya. Digambarkan suasana peternakan yang menyenangkan dan seru, dan hal-hal yang dilakukan Owen di peternakan serta makanan yang dimasakkan nenek untuknya.

IMG_6718Lalu saat mau pulang ke rumah, Nenek memberikan satu buah tas yang diisi peralatan untuk “petualangan’ Owen, yang diminta Nenek pulang ke rumahnya sendirian. Isinya ada makan siang, remah roti untuk tupai, dan sebuah buku yang menurut Nenek sangat penting untuk perjalanan Owen.  Buku ini dinamai Book of Signs

This book is for Owen, to help you on your way

Be careful and watchful, and on the path you’ll stay

Neneknya Owen bilang , “Gambar-gambar di buku ini akan mengingatkanmu pada ayat-ayat Alkitab yang selama ini kamu pelajari. Kalau kamu nggak yakin mau memutuskan sesuatu, keluarkan buku ini. Jawabannya ada di sini,”

IMG_6719

Awalnya Owen ragu, karena dia tidak pernah pergi sendirian.  Dia takut tersesat, apalagi ini untuk pertamakalinya dia pergi tanpa ada yang  menemani. Tapi Nenek memastikan kalau Bapaknya Owen sudah pergi lebih dulu menyiapkan jalur yang aman buat Owen, dan Owen tinggal mengikuti saja, pasti selamat sampai di rumah.

Akhirnya Owen berangkatm, dan memulai perjalanannya.

Saat dibacakan buku ini, Ephraim dan Gaoqi ikutan semangat dan muka mereka yang sama-sama antusias, seperti ikutan beneran di perjalanan ini.

IMG_6720

Awalnya, jalur yang dijalani Owen rasanya familiar. Owen benar-benar menikmati perjalanannya. Ada tupai, ada suara-suara yang alunan musik yang berasal dari lonceng kecil yang dipasang Nenek Owen di atas pohon oak , dan Owen juga menikmati duduk-duduk di kursi kayu di hutan dan Owen memberikan makanan remah roti yang dibawanya di tasnya kepada tupai yang lewat.

IMG_6721

Lalu Owen sampai di jalanan bercabang, dan Owen jadi bingung mau ambil jalan yang mana. Dia ingat perkataan neneknya jika dia sedang bingung mengambil keputusan, buka buku coklatnya. Dan ternyata ada tanda-tanda yang membuat Owen bisa memutuskan memilih jalan yang mana. Jalan yang ke kanan yang dianjurkan di buku itu (di bagian belakang ada ayat alkitab yang dimaksud yaitu Amsal 23:19  Listen my son, and be wise, and keep your heart on the RIGHT path)

IMG_6722Lalu Owen melewati jalanan-jalanan yang mungkin membingungkan dirinya , saat dia ketakutan karena mendengar suara keras seperti suara kaki gajah yang berdentam. Owen bersembunyi di dalam satu pohon,  dan kemudian dia kembali melihat ke bukunya. Ternyata di buku itu diingatkan dengan ayat yang  “Jangan takut, karena Tuhan menyertaimu ke manapun kau berada”.. dan benar saja, ternyata yang lewat adalah rusa yang berlarian.

Owen kemudian melanjutkan perjalanan, dan hampir jatuh di satu lobang. Kembali Owen melihat ke bukunya, dan melihat petunjuk di dalamnya, ada lagi yang mengingatkannya kepada ayat alkitab.

Kemudian Owen melewati sungai kecil, dan dia bingung bagaimana cara menyebranginya, dan Owen kembali membuka bukunya dan ada petunjuk di sana.

Petualangan-petualangan ini bikin krucils semangat membacanya, dan pengen tau. Gambarnya juga lumayan, bikin anak tunjuk sana sini bertanya ini apa, itu apa, dan paling seru kalo kita sekalian tiruin cara ‘jatuhnya’, atau caranya menghindari dari lubang, atau ikutan pura pura ketakutan pas diceritakan soal owen yang takut.

IMG_6723

Saat hari mulai gelap, Owen mulai ketakutan. Dia terus berlari, dan dalam ketakutan dia sempat membuka bukunya dan di situ ada gambar cahaya dan tulisan “God will give light to my lamp,”

Dan saat itu owen melihat sekelilingnya banyak kunang-kunang.  Owen dengan semangat memasukkan beberapa kunang-kunang ke dalam toples kacanya, dan itu menjadi lenteranya untuk menerangi jalan, sampai akhirnya dia melihat terang di depannya…dan itu adalah…RUMAHNYA!!

Soal kunang-kunang bikin krucils semangat banget, tapi emang belum bisa nunjukin kunang-kunang yang asli, sih. Mereka excited aja membayangkan ada binatang kecil bercahaya. Dan mereka ikutan seru mau berlari bersama Owen ihihihi.

IMG_6725Terang benderang rumah membuat Owen makin semangat berlari dan ternyata sudah disambut oleh Ayahnya.  “Dad, I made it!! I followed the Book of Signs, and stayed on the path!”

Krucils ikutan semangat saat Owen berlari ke pelukan Bapaknya.

Nah halaman terakhir itu ada gambar-gambar kayak petunjuk, apa saja yang ada di dalam tas Owen, dan gambar di buku Owen yang diberikan neneknya. Jadi bagian di belakang ini bisa dibuka sepanjang kita bacakan. Misalnya ngasih tau, mau ambil apa lagi ya di dalam tas…Atau, eh kita buka bukunya ya…sekarang petunjuknya apa ya...

IMG_6726Kalau keduanya dibuka, jadi satu halaman memanjang (berarti 4 halaman biasa ya) , yang jadi peta perjalanan Owen dari rumah neneknya ke rumahnya. Ini yang juga ikut dibuka sepanjang cerita, sambil ajak krucils nanyain : ini Owen udah sampai di mana, ya? Masih jauh nggak ya? Gitu-gitu, deh.

IMG_6729Perjalanannya sederhana ya, tapi krucils semangat banget mengikutinya.

Satu lagi deh kalo pengantar dari pengarangnya :

An allegory of how God’s Word guides us through life’s challenges, this book shows the importance of memorizing Scripture and features foldout pages with a large map. As they join in Owen’s adventure, young readers will enjoy tracing Owen’s path and matching icons in the Book of signs to their scripture reference.

Buku ini lumayan banget buat variasi dari ngajak baca cerita Alkitab. Waktu itu belinya di Fifi di grup WA BookLovers.

The Very Hungry Caterpillar by Eric Carle

20141013_171636

Buku ini jauuuuh dibawa Milla dari Jepun sana pas dia kuliah tiga tahun lalu. Titip karena oh karena susye yaaaah waktu itu nyarinya.  Jadi udah nyari ke segala toko buku favourit dan waktu itu belum terlalu dekat dengan online shop buku impor, akhirnya satu-satunya cara titip sama yang di luar. Dan waktu itu ada dua macam The Very Hungry Caterpillar yang dibilang Mille bertebaran di tobuk anak Jepun sana, yang satu buku biasa seperti ini yang satu ada tambahan bonekanya.

Isi ceritanya simpel aja, tapi buat anak 2 atau 3 tahun ini menyenangkan. Apalagi mereka kan seneng ya sama segala binatang bukan kayak mamaknya yang jijik liat segala reptil dan binatang melata.

Aduh fotonya jelek nih entah kenapa keresize kecil hiks.

Yah alakadarnya aja ya gambarnya. Nah ceritanya sebenarnya simple, mengenai seekor ulat yang terus menerus makan, dan akhirnya jadi kempompong dan jadi kupu-kupu. Metamorfosis dari ulat jadi kupu-kupu dengan cara yang simpel dan fun karena….heboh soal menggambarkan makanannya.

Waktu lagi seneng-senengnya dibacain buku ini, anak-anak seneng banget setiap nunjuk dan menyebutkan makanan-makanan yang ada.

One Sunday morning, the warm sun came up and -pop!- out of the egg came a tiny and very hungry caterpillar.

Jadi setiap lembarnya itu lembarannya dibikin ‘bertingkat, apa saja yang dimakan setiap hari. Dan lucunya gambar di makanannya lobangnya, jadi di setiap dibalik sambil kita cerita seakan-akan beneran si ulat memakan makanan itu.

20141013_171736

On Monday he ate through one apple. But he was still very hungry. On Tuesday he ate through two pears, but he was still hungry. (lihat deh cutenya si ulat keluar dari lubang di gambar apel kan hihi)

20141013_171755

On wednesday he ate through three plums, but he was still hungry

(si ulat keluar dari gambar two pears yang dimakannnya di hari sebelumnya/di lembar sebelumnya)

20141013_171803

On thursday he ate through four strawberries, but he was still hungry.

20141013_171811

On Friday he ate through five oranges, but he was still hungry

20141013_171825

On Saturday he ate through one piece of chocolate cake, one ice-cream cone, one pickle, one slice of Swiss cheese, one slice of salami,

20141013_171834

one lollipop, one piece of cherry pie, one sausage, one cupcake, and one slice of watermelon

That night he had a stomachache!!

Saturday ini bagian paling menyenangkan buat krucils deh.  Sebagian besar makanan yang idaman kan hahaha

20141013_171842

The next day was Sunday again. The caterpillar ate through one nice green leaf, and after that he felt much better

dan emaknya agak licik loh. Pas makanan-makanan enak tapi ‘kurang sehat’ di atas, kan dibilang uletnya sakit perut. Saya bilang kalo kebanyakan makan yang begitu memang jadinya perut sakit. It taste good but our body not really like it, gitu. Nah, di halaman ini kan si ulet makan green leaf. Sayur-sayuran. Dan si ulat merasa lebih baik. Ihiiy! Saya masukin deh bahwa sayur itu sangat bagus buat badan kita.

20141013_171853

Now he wasn’t hungry anymore – and he wasn’t a little caterpillar any more. He was a big, fat caterpillar.

20141013_171901

He build a small house, called a cocoon, around himself. He stayed inside for more than two weeks. Then he nibbled a hole in the cocoon, pushed his way out, and….

20141013_171912

He was a beautiful butterfly!!

Selesaiiiii!

Simpel ya? Tapi percaya deh anak anak seneeeng banget. Ya mereka kan suka yang simpel simpel ya, dan cerita ini satu alur doang, runut tapi gambarnya dan warnanya menarik.  Sekarang di rumah giliran Gama yang suka buku ini, udah dicoret-coret sih hihihi.

 

Whoever You Are by Mem Fox

Agak curang yaaa, maapkaaaan soalnya sampe tengah Oktober remfong, nanti pas ada waktu akan kubalaskan deh posting sesering seringnyaaa soal buku ini ahahah. Jadi ini ngambil dari yang di postingan di blog sebelah ya, karena udah dikunci kan siapa tau ada yang perlu. Jadi ini copas dulu yeeeh

Waktu review buku Ten Little Fingers and Ten Little Toes, Angela bilang kalau buku Mem Fox itu banyak. Thanks ya Ngel, bikin nggak patah hati gegara buku Sam MacBratney yang niat dikoleksi dulu ahahahaha ada untungnya loh suka curhat, karena siapa tau ada yang tau info berbeda dari persepsi kita selama ini kan bisa ngasih masukan. Nah pas cari-cari yang direkomen yaitu You’re All My Favourite malah nggak ada daan tada….ada 3 bukunya yang ketemu dan saya beli dan saya sukaaaak semuanya. Satu-satu ya.

Saya pilih review yang Whoever You Are dulu, ini paling sesuai dengan masa kampanye dan pilpres begini ahahaha.

Buku ini mengajak anak mengetahui bahwa di dunia ini ada anak-anak lain yang tersebar di seluruh dunia, dan berbeda-beda. Berbeda warna kulit, berbeda cara belajar, berbeda lokasi dan situasi alam, berbeda cara hidup, berbeda bahasa,  tapi…semuanya punya hati yang sama. Punya tawa dan senyum yang sama. Menangis karena hal yang sama.

Dan bahwa setelah dewasa, nanti anak-anak punya perkerjaan yang berbeda, dan semuanya bisa berbeda satu sama lain sifatnya,  tapi yang harus diingat bahwa cinta itu sama. Sakit itu sama. Hati itu sama.

Iya, isinya itu aja, Seperti buku anak-anak lainnya, banyak perulangan. Tapi saya sukaaa sekali membacakannya buat anak-anak, terutama karena ini seperti mantra buat diri sendiri juga. Mengenai perbedaan ini akan saya bikin di jurnal selanjutnya, mau nulis panjang ini disambi nungguin Argentina ahahaha.

Untuk anak-anak, bagus deh. Cara penggambarannya juga bagus, dengan kata-kata sederhana, dan yang dijelaskan itu hal yang sederhana buat anak dan bisa dibayangkan anak dengan lebih mudah kali ya.

20140702_021542_resized

Dimulai dengan  halaman 1 (nggak saya foto hahaha aduh lupa dan males upload lagi)  yang tulisannya ditujukan ke yang baca. Little One, Whoever You Are…. gitu lalu lanjut halaman ini . Wherever you are, there are little ones just like you all over the world.

20140702_015443_resizedTheir skin may be different from yours, and their home may be different from yours

Saya suka gambarnya yang langsung nunjukin perbedaan. Krucils sekarang kan sudah nanya kenapa si ini warna kulitnya begini, kenapa yang kulitnya putih juga ada yang matanya sipit, kenapa ada yang rambutnya kayak barbie warna kuning, dsb. Dan mengenai rumah, ini juga udah pertanyaan krucils. Kenapa rumah si ini besar, kenapa kecil, kenapa bagus, kenapa bertingkat, kenapa tinggal di tempat ompung, dsb.

20140702_015413_resized

Their school may be different from yours

Dan mengenai sekolah ini lagi jadi trending topic di rumah dua bulan terakhir karena Ephraim akan pisah SD dengan teman-teman TK-nya. Dia banyak bertanya kenapa si ini ke sekolah yang ini, apa yang berbeda dari sekolah tsb, dsb dll, dan kita perlu mastikan sama dia semua sekolah sama baiknya, tapi sekolah yang kita pilih untuknya adalah yang paling sesuai untuk dia. Menjelaskan soal sekolah ini puanjang kali lebar kali tinggi, dan berulang-ulang dengan sudut pandang bertanya yang berbeda beda sederajat dari sisi Ephraim. Artinya ada 180 atau 360 pertanyaan kan mengenai beginian ahahaha.

20140702_015453_resizedTheir lives may be different from yours, and their words may be very different from yours

Suka deh mengenai their lives may be different from yours, ini bisa sambil ceritain banyak dengan diawalin kenapa anak perempuan ini ikut bantu orang tuanya kerja. Berbeda dengan Ephraim dan Gaoqi yang untuk saat ini nggak usah bantuin orang tua bekerja mencari uang, kan.

20140702_015507_resizedBut inside, their hearts are just like yours,

Dan saya sukaaa bagian yang menunjukkan persamaannya.  Dimulai dari hatinya. Bahwa hati semua manusia itu sama kan, ya. Tendensinya adalah disayang dan menyayangi, dan sedih kalau disakiti. Gambarnya anaknya senyum digendong ibunya yang juga senyum

20140702_015537_resized

Their smiles are like yours, and they laugh just like you

Bahwa setiap kita sama-sama tertawa dan tersenyum, biasanya karena hal yang sama. Karena bahagia, karena merasa nyaman, karena merasa disayang.

20140702_015549_resized

Their hurst are like yours, and they cry like you, too. Whoever they are, wherever they are, all over the world

Lihat halaman yang ini rasanya gimana gitu. Sama kan di seluruh dunia, anak-anak umumnya nangis karena sedih saat berpisah dengan orang yang disayang, meski cuma untuk ditinggal kerja.

20140702_015603_resized

Little one, when you are older and when you are grown, you may be different

Dan saya suka banget saat disebutkan juga bahwa saat anak-anak bertumbuh dewasa , mereka juga akan mengambil pilihan-pilihan yang berbeda. Lihat detail  di belakang gambar si anak yang jadi dokter deh, seperti terbagi dua begitu kan, rumah di kiri dan di kanan. Saya sih nangkepnya, setiap orang punya pilihan dan bisa mengambil pilihan yang berbeda. Ahahaha iya kadang sok dalem nih mikirnya, tapi namanya juga baca buku begini berulang-ulang ya macam nonton Friends lah ya, pasti ada beberapa hal baru lagi setiap membaca ulang

20140702_015615_resizedAnd they may be different, wherever you are, wherever they are, in this big, wide world.

Perhatikan deh, gambar orang ‘dewasa’ di sini adalah gambar keempat anak kecil di atas. Dan saya melihatnya ini  pekerjaan mereka setelah dewasa atau status mereka. Yang sebelah kiri cewek jadi wartawan (pegang notes dan pensil ya bow, ahahaha belum pegang tablet dan recorder), yang cowok baju ungu menikah (abis nunjukin cincin sih hihihi) tapi asumsi saya belum punya anak, karena yang paling kanan si cowok pirang sudah punya anak, dan yang cewek baju hijau jadi pengacara (lagi-lagi asumsi, gegara pegang gulungan kertas). Nah, kembali setelah menyebutkan perbedaan-perbedaan itu, ditegaskan lagi bahwa kita juga tetap punya persamaan yang mendasar

BUT REMEMBER THIS

20140702_015631_resized

Joys are the same, and love is the same.  Pain is the same, and blood is the same

Ngomongnya sama krucils, kalau setiap orang pasti seneng kalau disayang. Seneng kalau diperhatikan. Seneng kalo dibaek-baekin. Semua orang di seluruh dunia seperti itu ya begitu. Seneng dicintai. Dan sebaliknya, setiap orang kalau terluka ya merasa sedih. Kalau sakit merasa sedih. Nggak perduli anak siapa-tinggal di mana-bahasanya apa-kerjanya apa-rumahnya bagaimana-sekolahnya di mana, kalau jatuh dan berdarah ya semuanya merasakan sakit juga.

20140702_015655_resized

Smiles are the same and hearts are just the same, wherever they are, wherever you are, wherever we are all over the world.

Itu closurenya.

Oh ya, saya sengaja masukin hampir semua gambarnya, karena kalau buku anak memang lebih baik kita lihat semuanya ya. Namanya juga isinya cuma sedikit, dan berulang-ulang, jadi mendingan dijembrengin semua biar tau ada yang cucok di hati atau nggak. Saya bikin begini terinspirasi cara si Joice mereview Love You Forever di sini.  Informatif banget kan ya beda sama cara saya dulu pas mereview buku yang sama si Love You Forever di sini hahaha. Thanks ya Jo.

Overall, buku ini recommended banget. Worth to buy!

Harriet, You’ll Drive Me Wild

Harriet, You’ll Drive Me Wild by Mem Fox illustrated by Marla Frazee

Buku ini salah satu buku yang bikin jatuh cinta pada bacaan pertama. Kenapa? gue banget. hahahaha. Buat ibu yang naturenya nggak sabaran  dan yang sedang berusaha belajar sabar  seperti saya,  perubahan wajah si ibu mulai dari halaman pertama buku ini sampai halaman terakhir, itu saya banget. Dan anaknya? Pesky? hmmm…saya nggak mau meng-aminkan Gaoqi pesky ya, tapi di beberapa hal, seperti begitu banyaknya kelebihan dear Gaoqi tercinta, santai ke pantai yang kebablasan seperti mamaknya adalah salah satu hal yang juga ada di dirinya. Meski saya melihatnya dia lebih ke sisi positif karena bisa menikmati hidup dan lebih mudah memaafkan saat orang di sekitarnya berbuat salah, dan juga lebih mudah memaafkan dirinya sendiri, tapi ada beberapa hal dari Harriet di buku ini yang sangat mengingatkan saya tentang dia.

Dan buku ini menggambarkan dengan bagus banget, apa yang terjadi di dunia sehari-hari, dan saya suka penutupnya.

20140806_130528_resized

Dimulai dengan pagi hari Harriet, perkenalan di halaman awal ini bikin senyum. Lihat deh gambar Harriet yang iseng membangunkan anjingnya (dan mungkin artinya membangunkan seluruh keluarganya juga hahaha).

20140806_130548_resized

Harriet Harris ws a pesky child. She didn’t mean to be. She just was

Lalu dilanjutkan dengan gaya sarapannya. Errrrr…di bagian ini waktu saya tunjukin hubby, kami ngikik karena iya. ini Gaoqi banget. Entah kenapa dia seperti susah banget duduk diam untuk makan. Itu masih issue dia selama ini, jadi meski duduk ya tangannya ke mana-mana, dan sambil goyang goyang nari sendirilah, most of the times, itu membuat kami mengangkat alis selama makan.

20140806_130605_resized

One morning at breakfast, she knocked over a glass of juice, just like that.

Lalu ibunya yang tadi melirik dengan lirikan maut (meski ibunya juga salah ya, baca di meja makan. Meski itu tidak pernah kami lakukan, membaca di meja makan, saya dan hubby mengaku salah kadang asik sendiri ngobrol berdua hahaha dan suka pake bahasa Batak yang artinya rahasia ye anak-anak…kita mau asik sendiri nih ngobrolnyaaa). Nah, si ibu ini masih sabar ya. Iyalah masih pagi . Stok sabar masih 10 liter, bro…Ibunya, yang tidak suka membentak (saya suka pilihan kata di bahasa inggris. Like means suka, bukan sering karena di bahasa Indonesia kalau mau bilang sering (often/many times) sering dipakai sehari-hari kata suka. Padahal suka kan artinya senang ya. Jadi ibunya yang tidak suka membentak hanya menasihati perlahan tanpa menyebut kesalahan. DI bukunya, ada penekanan di kata darling. Untuk ‘memperpanjang’ sabar, kali ya. Supaya pas lagi kejadian begini, pake kata-kata yang mengingatkan kita dan anak kita bahwa kita sayang mereka dan mereka berharga.

20140806_130639_resized

Her mother didn’t like to yell, so instead she said “Harriet my darling child,”

“I’m sorry” said Harriet, and she was

Dilanjutkan dengan saat snack , artinya…jam 10 lay ya…. Si Ibunya sedang sibuk melakukan pekerjaannya. Nelpon sambil baca tagihan hahaha. Lihat muka melotot ibunya, pastiii beliau kebayang cucian lagi dan lagi dan lagi dong ya hahaha. Oh ya, dan lantai yang kotor artinya ngepel. Dan snack yang terbuang. Bow, kalau itu Nutella 53 rebu sekarang iiih…

20140806_130700_resized

At snack time, she dribbled jam all over her jeans, just like that.

Dan kebayang, ibunya yang berusaha menahan nafas, tapi masih berusha tersenyum, sambil mengganti pakaian Harriet.

20140806_130714_resized

Her Mother didn’t like to yell, so instead  she said “Harriet, my drling child, you’ll drive me wild,”

I’m sorry,” said Harriet, and she was 

Lalu sebelum makan siang, ibunya masih melakukan pekerjaan domestik lainnya. Dan Harriet juga sibuk ‘berkarya’. Ahem, kreativitas selalu harus dibayar dengan sesuatu kan. Antara lain, mungkin bayarannya adalah kesabaran ibunya . Uhuk

20140806_130724_resized

Before lunch, when Harriet was painting a picture, she dripped  paint onto the carpet, just like that

Ibunya masih sabar lah yaw. Dan Harriet merasa salah kok, mukanya juga kelihatan lebih merasa bersalah.

20140806_130735_resized

Her  Mother didn’t like to yell, so instead she said

“Harriet, my darling child, you’ll drive me wild. Harriet, sweetheart, what are we to do?”

“I’m sorry,” said Harriet, and she was

lalu masuk makan siang. Yuhuuu..kembali ya, arena yang menguji kesabaran tingkat tinggi. Ihik. Si Harriet  merosot dari bangkunya (kalau ini sepertinya karena sambil main-main atau goyang-goyang ya), dan nggak sengaja jadi  narik taplak meja makan, dan …yah begitulah….semua berantakan

20140806_130744_resized

At lunch, Harriet slid off her chair and the tablecloth came with her, just like that

Dan ibunya, lagi-lagi berusaha tidak marah, tapi mukanya aduh mukanya udah kelihatan menegang deh (which kalau aku mungkin muka begini udah terjadi mulai di snack time tadi ya hihihi). Dan ibunya memarahi Harriet, dan Harriet nyadar kesalahannya, tapi juga kesal sendiri, lihat deh gayanya di tenmpat tidur menutup kepalanya dengan bantal.  Sepertinya, meski dia santai kayak ke pantai, dia juga sadar ini sudah ke berapa kali dia berbuat salah dan dia mulai sadar suara ibunya mulai meninggi, tapi tetap ditahan.

20140806_130755_resized

Her mother didn’t like to yell, so instead she said

“Harriet, my darling child. Harriet, you’ll drive me wild. 

Harriet, sweetheart, what are we to do?

Harriet Harris, I’m talking to you,”

I’m sorry, ” said Harriet, and she was

Lalu waktu tidur siang. Digambarkan Harriet sewaktu mau tidur masih bermain main dengan anjingnya,dan…saat bermain, bantalnya ketarik, sobek dan…..beterbanganlah bulu-bulu dari dalam bantalnya. Ahem.

20140806_130807_resized

Later that afternoon, when Harriet was meant to be napping, she ripped open a pillow , just like that.

A thousand feathers flew in every direction

Dan ngakak liat gambarnya. Kebayang ya suasananya. Dan pinter deh yang menggambar, dia mengambil sudut wajah ibunya Harriet yang tertegun dari kerjaannya, dan di belakangnya Harriet di tengah kekacauan itu, yang tegang wajahnya ikut tertegun berdiri di antara bulu bulu yang melayang. Nyadar banget dia sudah melakukan kesalahan. Bahkan anjingnya diam dong. Muka bengong hahaha. Halaman yang ini kebayang banget suasananya. Seorang ibu jauh lebih menakutkan saat diam daripada saat merepet, bukaaan? Bukaaaan? hahaha

20140806_130827_resized

There was a terrible silence

Dan ibunya Harriet, yang berusaha sabar dari pagi, iya kan dari pagi kan tadi yaaaa kebayang kan yaaaa…akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia mendatangi Harriet di pintu kamarnya, dan…mulai…ber…te..ri…ak…. Huhuhu..ngelepasin semua yang dipendam tadi yang berusha dipendam tadi ya…huhuhuhu dan biasanya, sekali lepas…jadi malah kebablasan. Teriakannya jadi berkali-kali.

20140806_130837_resized

Then Harriet’s mother began to yell.

She yelled and yelled and yelled.

Dan Harriet, yang benar-benar menyadari kesalahannya kali ini (ingat kan reaksi mukanya di dua halaman sebelum ini?), sampai tersedu sedu. Antara kaget karena diteriakin (dari tadi kan mana ada emaknya teriak teriak), dan juga menyadari kesalahan. Campuran kaget dan merasa bersalah, biasanya diwujudkan dalam tangisan deh oleh anak-anak. Atau tantrum kali ya buat beberapa anak

20140806_130854_resized

I’m sorry,” Harriet cried. “I’m really sorry,”

Dan saat-saat seperti ini, melihat anak menangis seperti itu, pasti kekesalan dan tangisan seorang ibu yang tadinya menggunung juga bakal runtuh kan kan kan. Dan ibunya melakukan hal yang memang biasanya dilakukan dari nature seorang ibu. Yang pasti mencintai anaknya. Meski anaknya pesky dsb dts. Memeluk. Memeluk never fails anyone.

20140806_130933_resized

Her mother took a deep breath. 

“I know you are,: she said, hugging Harriet tight

I’m sorry, too, I shouldn’t have yelled, and I wish I hadn’t.

But sometimes it happens, just like that”

Dan this is the best part number 2. Keduanya sama-sama memafkan satu sama lain, dan sama-sama memaafkan diri sendiri.

20140806_131101_resized

“Big Mess,” said Harriet

“A very big mess,” said her mother

And she started to laugh

Dan ini best part number 1. Sewaktu kita bisa menertawakan diri sendiri. Life is  soooo fun sewaktu bisa menertawakan diri sendiri, kan. Dan tentu saja, tidak ada yang lebih menyenangkan selain menertawakan diri sendiri dengan orang yang kita cintai. Sambil bersama-sama memperbaiki kesalahan yang kita buat

20140806_131121_resizedAnd they laughed and laughed and went on laughing as they picked up the feathers together

Kalau membacakan ini buat Gaoqi, dia suka ketawa-ketawa sendiri. Kadang saat membacakan di bagian yang pernah dia lakukan, saya melirik dia dan membacakannya agak dilambatkan. Dia nyadar, dan biasanya tersipu. Sebaliknya, di bagian yelling, tentu saja Gaoqi memelototi saya karena dia belum bisa melirik menyindir kan ahahaha. Dan selalu, selaluu…di bagian terakhir kita ikut tertawa-tawa bareng, sambil ngelitikin badan dia.

Saya suka deh buku ini.

Sederhana. Kata-kata yang diulang juga bermakna. Bahwa Harriet minta maaf dan dia bersungguh-sungguh dengan minta maafnya, tapi…memang mungkin pembawaan dia seperti itu. Happen just like that. Ada kan ya anak yang memang gerakannya hati-hati, ada yang slebor, dan sudah sepantasnya diterima apa adanya. Tentu saja yang kurang harus diperbaiki, tapiiiii seperti yang mau dibilang buku ini juga, SABAR itu is A MUST!  Dan saat ibunya juga menahan diri, dan suatu saat bisa lepas kendali, itu nggak akan membuat semua pengendalian dirinya selama ini jadi tercoreng kok. Saya tetap merasa ibu di buku ini adalah ibu yang baik. Iya kan? kan? kan?  *cari pembenaran buat diri juga ihik*.

Karena , kadang teriakan terjadi just like that, setelah begitu banyak yang terjadi menguji kesabaran. Kalau sekali-sekali, dimaafkan. Asal jangan setiap hari teriak, kali ya. Untuk ibu ini agak dimaafkan deh, kan dia teriak setelah lewat makan siang, lumayan tuh dari pagi sampai sore bisa menahan diri tidak marah-marah *self-toyor*

Buku ini juga menggambarkan bahwa baik menjadi anak maupun menjadi orang tua,meski saling menerima apa adanya, juga sama-sama belajar menerima orang lain apa adanya.  Dan tentu saja bahwa sabar itu memang harus dilatih. Dan bahwa pada akhirnya, rasa sayang kita akan memampukan kita sebagai orang tua bisa bertambah dewasa dan anak kita juga semakin bertumbuh baik. AMIN.

 

Love You Forever

written by Robert Munsch , illustrated by Sheila McGraw

20140721_161820_resized

Kalau ditanya buku favourit, kayaknya semua buku bisa jadi favourit. Tapi okelah, ini buku yang sampai sekarangpun dibaca tetap suka ngembeng di bagian bagian belakang. Buku ini saya beli sekitar 4 tahun lalu, dan rajin saya bacakan ke krucils. Bukan board book, jadi sekarang udah lecek lecek.  Dulu dibacakan untuk Ephraim dan Gaoqi, sampai mereka hapal bagian perulangannya. Dan sekarang saat Ephraim sudah bisa baca buku sendiri dan membacakan buat adik-adiknyapun, kalau saya sedang membacakan buku ini untuk Gama, Ephraim dan Gaoqi masih mau nempel buat dengerin. Mungkin menenangkan ya saat mendengar buku ini dibacakan, karena emang dulu buku ini dibacakan sewaktu mereka mau tidur kan.

Buku ini menceritakan tentang tahapan seorang anak dari bayi sampai menjadi lelaki dewasa. Dan tentu saja, tahapan dari ibunya juga mempunyai anak bayi dan akhirnya mempunyai anak dewasa..

Cerita dibuka dengan seorang ibu baru yang menggendong bayinya.  Masih tidur aja ya, bayinya. Masih bisa sambil senyum-senyum dan di masa-masa hectic punya bayi dengan tampang berantakan dan perut masih gombyor,  ada kan masanya mereka tidur di gendongan kita, dan kita sesaat memandangi malaikat kecil yang tidur sambil pelan pelan mencium jangan sampe kebangun capek banget nidurinnya lagi ihik.  Sewaktu kita memandangi bayi ganteng dan cantik itu sambil mendoakan dalam hati atau sekedar humming. Many time those 5 to 10 peaceful minutes really boost our energy buat siap-sedia-mode-on lagi di jam-jam berikutnya.

20140721_161855_resized A mother  held her new baby and very slowly rocked him back and forth, back and forth, back and forth. And while she held him, she sang 

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Lalu di halaman selanjutnya, bayinya yang cute itu bertumbuh semakin cute, sampai berumur 2 tahun dan tentu saja…welcome the terrible terrific Two kan yaa, di mana masa-masa pengen makein helm ke kepala anak tersayang karena hobbynya manjat-lari-lempar padahal keseimbangannya belum ajeg banget, yang mana sering bikin mereka tertubruk atau menubruk, kejedut, terjatuh, dsb dst. Masa-masa di mana mau garuk garuk tembok atau cabut-cabut rumput kan. Masa-masa melihat ke sekeliling mencari ada nggak sih anak Toddler yang sama hebohnya kayak anak saya, atau saya sendirian di dunia ini. But we’re not alone.

20140721_162116_resized

The baby grew. He grew and he grew and he grew. He grew until he was two years old, and he ran all around the house. He pulled all the books off the shelves. He pulled all the food out of refrigerator and he took his mother’s watch and flushed it down the toilet.  Sometimes his mother would say “this kid is driving me CRAZY!!”

Tapi coba, kalau malam-malam, saat mereka tidur, semuaaa kekesalan-ketidaksabaran-repetan di sepanjang hari langsung lenyap saat melihat mereka terlelap. Malaikat kecil kembali jadi malaikat kecil

20140721_162135_resized But at night time, when that two-year-old was quiet, she opened the door to his room, crawled across the floor, looked up over the side of his bed; and if he was really asleep she picked him up and rocked him back and forth, back and forth, back and forth. While she rocked him, she sang ;

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Dan toddler tadi terus bertumbuh, sampai menjadi anak tanggung. Dan gayanya? Lihat gayanya. Lihat bekas kakinya yang ngotorin lantai yang pasti baru dipel. Lihaaaaat ahahahaha  bener-bener pengen dicubit dan teriak kayaknya. Dan deskripsinya  juga lucu banget

20140721_162150_resized

The little boy grew. He grew and he grew. and he grew. He grew until he was nine years old. And he never wanted to come in for dinner, he never wanted to take a bath, and when Grandma visited he always said bad word. Sometimes his mother wanted to sell him to the zoo!

 Jujur kacang ijo banget kan perasaan ibunya itu ahahaha.  Tapi eh tapi…coba lihat lagi halaman berikutnya.  Saat malam hari dan anak tanggung tersebut sudah tidur, ibunya datang ke kamarnya.

20140721_162202_resized

But at night time, when he wa asleep, the mother quietly opened the door to his room, crawled across the floor and looked up over the side of the bed. If he was really asleep, she picked up that nine year old boy and rocked him back and forth, back and forth, back and forth. And while she rocked him, she sang

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Dan bertambah besarlah anak tanggung itu, jadi remaja. Teenager. Ini pe-er banget kayaknya ya buat orang tuanya. Semoga sama anak-anak kita nanti funky-funky aja, ahahaha. Aduh, lihat gambarnya aja pengen jambak jambak rambut kan (rambut anaknya dan temennya ahahaha)

20140721_162219_resized

The boy grew. He grew and he grew and he grew. He grew until he was a teenager. He had strange friends and he wore strange clothes and he listened to strange music. Sometimes his mother felt like she was in a zoo!

Beneran berasa kayak kebun binatang kan itu ngeliat rumahnya….zzzzzz

Tapi sekali lagi, saat malam hari, ternyata si ibu tetap dong dateng mindik mindik ke kamar anaknya. Dan ternyata sudah malam hari, di saat tidurnya, si anak yang bikin rumah kayak kebun binatang tetap terlihat seperti malaikat ya. And please pay attention, untuk anak yang membuat dia merasa rumahnya is a zoo,, dia menyebutnya That GREAT BIG BOY. Our children, always and always and always look great in our eyes.

20140721_162236_resized

But at night time, when that teenager was asleep, the mother crawled across the floor and looked up over the side of the bed. If he really was asleep,  he picked up THAT GREAT BIG BOY and rocked him back and forth, back and forth, back and forth. While she rocked him she sang

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Lalu si teenager bertambah dewasa, dan sudah bekerja, menikah, dan punya rumah sendiri di daerah lain. Hal yang sangat baru lah ya buat orang tua. Biasanya, di masa pindah meninggalkan orang tua begini, yang excited luar biasa adalah anak-anaknya kan. Merasa dewasa, merasa mandiri. Sementara orang tua , yang merasa nih anak kok udah tetiba gede aja…udah punya kehidupan sendiri… time flies….

20140721_162253_resized

The teenager grew. He grew and he grew and he grew. He grew until he was a grown up man. He left home and got a house across town

Dan menurut ngana, kalau anak kita sudah gede, sudah dewasa, sudah punya kehidupan sendiri, apakah kita bisa melepaskannya begitu saja? Kayaknya nggak ya. Mungkin bukan datang bawa mobil seperti cerita ini, tapi lewat telpon yang menanyakan keadaan ya kan.

20140721_162304_resized

But sometimes on dark nights , the mother got into her car and drove across town

Kadang-kadang kita datengin lah ya, anak tersayang. Terserah mau alasan nengok cucu atau nengok menantu (uhuk), pasti tetap anak tersayang juga dirindukan ya. Nah, sebenarnya, saya lebih menangkap kalau yang dilakukan si ibu ini saat anaknya dewasa adalah mendatanginya dalam bentuk doa-doa. Maksud saya, di doa-doa syafaat malam ibunya, pastiii nama anak nggak pernah alpa disebut. Di doa ibuku namaku disebut kan yaaa….And I loove how the book , again, mention that that great big boy now turn into a GREAT  BIG MAN.

.20140721_162313_resized

If all the lights on her son’s house were out, she opened his bedroom window, crawled across the floor, and looked up over the side of his bed. If THAT GREAT BIG MAN was really asleep, she picked him up and rocked him back and forth, back and forth, back and forth. And while she rocked him, she sang

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Lalu suatu hari, di tengah kesibukan si anak seperti biasa, anak itu mendapat telepon dari ibunya

20140721_162323_resized

Well, that mother, she got older. She got older and older and older. One day she called up her son and said “You’d better come see me because I’m very old and sick,”  So her son came to see her. When he came in the door, she tried to sing the song. She sang

I’ll love you forever , I’ll like you for always….

But she couldn’t finish because she was too old and sick

Jujur saja, setiap membacakan di bagian ini, saya selalu berkaca-kaca. You reap what you sow . Semoga aku dan bapak kalian menabur kasih di hati kalian ya anak-anakku, sehingga kami dan orang sekeliling kalian juga akan menuai kasih.

20140721_162344_resized

The son went to his mother, he picked her up and rocked her back and forth, back and forth, back and forth. And he sang this song :

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my Mommy  you’ll be

Lalu si anak pulang ke rumah, dan dia seperti memikirkan semua yang terjadi selama ini, dan menarik benang merah di kehidupannya

20140721_162400_resized

When the son came home that night, he stood for a long time at the top of the stairs

Dan saya sukaaa banget apa yang di halaman ini. Bagaimana cara lelaki tadi menyanyikan buat anaknya. Kembali mengingatkan kita, bahwa kita meneruskan nilai-nilai ke anak-anak kita. Dan melihat bagaimana cara perlakuan si anak ini ke anak perempuannya, kita tau bahwa dia bisa menangkap rasa cinta ibunya ke dirinya kan. Children see children do.

20140721_162418_resized

Then he went into the room where his very new baby daughter was sleeping. He picked her up in his arms and very slowly rocked her back and forth, back and forth , back and forth. And while he rocked her, he sang

I’ll love you forever, I’ll like you for always. As long as I’m living, my baby you’ll be

Bagus , ya.

Saya jadi inget salah satu kotbah di gereja, saat Ps Jose bilang kalau dalam membesarkan anak, ada masa-masa musim dingin juga. Tapi sama seperti pohon-pohon yang tumbuh indah setelah melewati masa dingin yang berat, jika kita bisa menemani dan menyayangi anak-anak kita dengan benar di ‘masa musim dingin’, maka dia akan tumbuh sangat indah. Yah masa ‘musim dingin’ itu kelihatan kan, di masa toddler ya saat anak kita sedang rewel dan cranky atau berantakin sana-sini, di masa anak tanggung ‘musim dingin’ nya dalam bentuk anak suka menkonfrontir atau mungkin melawan mau menunjukkan dirinya,  atau teasing ke adik atau kakaknya, dsb . Di masa remaja , ‘musim dingin’ nya  ya yang pengaruh teman-temannya, pola pikirnya yang mungkin berbeda dengan kita, dsb. Di masa dewasa, ‘musim dingin’nya mungkin ya yang tinggal jauh dari kita, dan anak yang sibuk dengan kehidupannya juga. Hiks. tapi, di setiap masa  itu juga ada musim seminya kan. Dan as long as we stay on their winter, we will stay in their summer and spring, too.

Oh ya, saya merasa buku ini detail banget. Perulangan yang diberikan itu selain untuk menenangkan anak-anak saat membacanya (kan anak-anak suka perulangan, ya) , perulangannya itu di bagian yang menurut saya penting banget untuk memberikan rasa aman ke anak bahwa mereka dicintai. Dan bahwa meski kita marah atau kesal, meskipun itu nggak dibenarkan ya, tapi mereka tau, deep down kita sayang banget sama mereka.

Highly recommended.