Hello From theTambas’ Library

I love books. And I love seeing people reading books. And I especially love knowing parents who read books for their children or find time to read the books.

I collected some children book, and usually I put some review in my blog. And I think  I want to help any parents -even if there’s only very few- that want to look for books for their children.

Oh ya, please do remember reading book is a matter of preference , too. So one book that I consider good might just a so-so book for some people. I think it’s ok, cause I do believe every book is different in every reader’s mind. When 5 people reading the same book, those books will be differently digested by those 5 mind and souls.

Thank you, I hope you enjoy your tour here. And by the way, no, I don’t sell books.

 

Advertisements

Roald Dahl Collection

Kayaknya yang punya anak-anak sudah tidak asing dengan nama Roald Dahl ini, semacam the must have book untuk anak-anak, yang orang dewasa juga menikmati membacanya.  Beberapa karyanya sudah difilmkan, seperti Mathilda, The Big Friendly Giant yang heboh sekitar 2 tahun lalu, dan tentu saja Charlie and the Chocolate Factory yang bikin saya sempat norak saat ke Birmingham karena di situ pabriknya Cadbury dan berasa kebayang ini nih kayaknya lokasinya si pabrik coklat di buku itu ihik.

Buku-buku Roald Dahl umumnya selalu menampilkan karakter orang dewasa dan anak-anak, dengan penggambaran yang kadang bisa jadi terlalu berlebihan kalau dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Tapi ya kalau kita anggap itu dari sudut pandang anak-anak (yang saat loncat dari atas meja makan ngakunya berasa lagi jadi Superman terbang dari atas gedung bertingkat, atau yang melihat mamaknya bilang mamaknya cantik seperti Princess hanya karena pake lipstik), ya jadi bisa dimaklumi ya. Saya sempat merasa terganggu sih dengan penggambaran orang dewasa yang gualak banget-nyebelin banget-sotoy banget di cerita Mathilda atau James and The Giant Peach, atau penggambaran anak yang manja buanget sampe sungguh nyebelin kayak di Charlie and The Chocolate Factory, tapi akhirnya saya terima begitulah cara menulisnya si Roald Dahl. Saat itu saya mikir,  karakter-karakter super nyebelin begini, apa faedahnya sih bagi anak-anak untuk diketahui? Ternyata buat mereka, sifat nyebelin itu menjejak di otak mereka bahwa yang namanya pelit, atau suka pamer atau mendominasi itu sifat yang menyebalkan sekali. Bukan berarti mereka jadi tetiba langsung rendah hati dan murah hati setelah membacanya ya hahaha tapi saat mereka sedang pelit, mereka tau itu pelit (bukan perhitungan/efisien)  dan itu salah. Mulai dari menyadari sifat mana yang nggak oke kan juga udah bisa dikasih kredit, ye kaaan? Dan lagi, ternyata saat saya diskusikan dengan anak-anak soal buku-bukunya, keburukan keburukan orang-orang dewasa di buku-buku tersebut tidak terlalu membekas di hati mereka, sebaliknya unsur petualangan atau hal-hal lucu di tiap buku yang jadi high light  yang sangat berkesan bagi mereka.

IMG_8396

IMG_8395

Buku yang difavouritkan krucils adalah Mathilda, The BGF, George’s Marvellous Medicine, James and the Giant Peach, Danny Champion of The World dan ofkors Charlie series (Charlie and The Chocolate Factory sama Charlie and The Great Glass Elevator). Nah yang menurut mereka nggak oke? Going Solo sama The Boy tales of Childhood kata Ephraim nggak berkesan. “It’s a lot like journals, but the real ones, not like Wimpy or Dork,”. Dan yang The Twits “It’s oke, but too short for a book,” hahahaha.

Buku-buku Roald Dahl ini lebih baik untuk anak-anak usia 8-9 tahun ke atas, dan menurut saya tetap perlu pake bimbingan orang tua, dengan kadar santai. Maksudnya setelah mereka baca, kita obrolin apa yang berkesan di buku tersebut, dan apa pesan moralnya (nggak usah serius kali pulaknya istilahnya yak, tapi ya kek gitulah maksudnya, tanyakan ke anak-anak menurut mereka sikap seperti ini baik atau nggak, karakter utamanya juga seharusnya bersikap seperti itu atau tidak, dsb)  Contohnya seperti karakter Mathilda ya, tetap harus diomongin ke anak-anak, kalau tindakan Mathilda yang mengerjai bapaknya dengan mengganti minyak rambutnya jadi pewarna itu juga salah. Tapi kalau untuk orang dewasa, buku-bukunya malah saya rekomendasikan. Yang Esio Trot apalagi ihik, ringan dan bernuansa romansa sih.

Dan pas ke Cardiff udah semangat aja pas lihat ada Roald Dahl plass dan dengan naifnya kita berpikir bahwa itu kayak Plaza Roald Dahl, dan pas lihat di google udah semangat aja eh ini opening hoursnya 24 hours…. yaiyalah ternyata ‘cuma’ plakat si Roald Dahl doang di luar gedung dekat pantainya.  Ihik. Gapalah, yang ngefans ikutan poto deh

Beatrix Potter Treasury

IMG_7038

Kalau dengar Beatrix Potter maka yang paling diingat adalah Peter Rabbit, ya? Kami juga mengenal Beatrix Potter pertama kali lewat si kelinci yang susah dibilangin emaknya ini, dan waktu itu bacanya masih yang buku putih tipis, terpisah-pisah. Setelahnya baca yang Benjamin Bunny si sepupunya Peter, dan kemudian Flopsy, adiknya Peter yang kemudian menikah dengan Benjamin. Nah awalnya saya kira si Beatrix Potter ini cuma nulis cerita mengenai kelinci-kelincian hahaha, eh ternyata nggak dong. Ada mengenai Squirrel, yaitu Squirrel Nutkin, dan binatang binatang lainnya.

Saya suka buku ini karena ceritanya sederhana dan mudah dicerna anak-anak. Gambarnya bagus, meski buat saya masih juara gambarnya Tini dari segi warna. Tapi anak-anak suka kok sama ilustrasi Beatrix Potter ini.

Nah waktu itu kami dapatkan buku ini pas acara Carboot, 2 pound saja dan masih bagus banget bukunya seperti baru. Kayaknya ini unwanted gift begitu, masih licin bersih bagus dan tidak ada coretan sama sekali, benar-benar kelihatan gres. Seneng sekali, karena di edisi hardcover A Beatrix Potter Treasury ini ada 10 cerita yang katanya paling favourit di antara cerita cerita karangan Beatrix Potter.

IMG_7040

Kesepuluh ceritanya mengenai tokoh yang berbeda, dan semuanya adalah binatang. Settingnya di hutan hutan khas Inggris, atau di pertaniannya.  Dan kenapa cuma 10 cerita yang sebenarnya terdiri dari 10 buku tapi tipis tipis banget, kok bisa sampai 190 halaman tebalnya? Karena edisi khusus, buku ini bukan hanya kumpulan cerita saja, tapi juga ada kisah Beatrix Potter,  mengenai keluarganya, karya karyanya yang lain, inspirasi cerita beliau, dan contoh contoh ilustrasi yang dia buat. Ini lebih untuk bacaan kita atau anak yang lebih gede sih, buat tambahan referensi aja. Di setiap awal  cerita barupun, ada semacam pengantar mengenai cerita itu.

IMG_7039

Gambar di atas adalah salah satu contohnya. Oh ya, saya pernah lihat sekilas doang sih di Gramedia, ada hardcover edisi Peter Rabbit ini, nah nggak tau ini yang versi bahasa Indonesia atau sama-sama bahasa Inggris.

Oh ya, pas juga ya diputar filmnya yang Peter Rabbit, dan pas lihat traillernya, saya sih nggak suka. Nggak berasa pas saja sama Peter Rabbit yang di film, kayaknya nyebelin instead of gemes-kesel-kasihan sama si si Peter yang di buku. Kayaknya emang beda juga sih ya,  karena ‘musuh’ Peter yaitu si Mr McGregor yang di buku yang kayak terobsesi bikin rabbit pie (dan bapaknya si Peter adalah salah satu korbannya) kok di film-nya semacam muda begitu masih lajang pulak dan pake acara naksir naksir cewek, sedangkan yang di buku sudah tua dan sudah punya istri. Keluarga petani baik-baik, dan menurut sya sih nggak ada yang salah dengan beliau kalau dia emang suka makan Pie Kelinci. Kan memang ada binatang-binatang yang buat dimakan, ya.

Tuh lihat Mr McGregor yang di gambar bawah ini. Seperti saya bilang sebelumnya, cerita-ceritanya Beatrix Potter ini sederhana, kok. Cerita tipikal untuk anak kecil yang bisa kita kasih tau nilai baik buruk (kadang mirip si Kancil nih si Peter Rabbit), dan unsur serunya kayak kejar kejaran atau mencari sesuatu, digambarkan ‘panjang’ dan membuat anak-anak seusia Gama (di bawah 6 tahun) bisa ikut terlibat dan merasa seru.

IMG_7041

Sekalian mejeng (ahaaaay, nggak tahan juga nggak pamer foto diri sendiri), sewaktu kami ke Stratford Upon Avon, di city centrenya deket-deket rumahnya Shakespeare, ada toko yang khusus menjual buku dan pernah pernik si Beatrix Potter ini. Menggemaskaaaan, tapi kita mah kuat iman soal nggak belanja karena nggak ada anggaran hahahaha.

FullSizeRender

Seri buku dari Beatrix Potter ini layak dicari deh, kalau pas ada yang nanti mau hunting ke Big Bad Wolf.

Enid Blyton’s Boarding School Series

Ini nih serinya Enid Blyton yang bikin dulu saat kecil dan baca buku-buku ini kemimpi mimpi pengen masuk sekolah asrama.  Untuk ukuran anak seumuran itu, rasanya membaca cerita di asrama yang penuh dengan sepanjang hari barengan teman-teman, bikin PR bareng, ‘kabur’ bareng, tengah malam bikin pesta piyama dan piknik tengah malam makan sandwich dan biskuit, rasanya indaaaaah sekali yak.

Buat yang angkatan saya, kayaknya rata-rata akrab atau setidaknya tau seri asrama nya Enid Blyton, yaitu Malory Towers, St Claire, dan Naughtiest Girl.  Cukup lama Gramedia tidak mencetak ulang seri tersebut, jadi di awal-awal masa bekerja (saat ada uang tapi tak ada cicilan dan tentu saja untuk beli buku doang bisa dianggarkan) dan nggak bisa menemukan seri ini, saya cari cari lewat yang jual buku bekas. Ini sedikiiit gambaran mengenai ketiga series ini

MALORY TOWERS

Nah sekarang Gramedia mencetak ulang lagi. Jadi buat teman-teman yang muda dan dulu belum kenal sama serial ini, Mallory Towers ini recommended, deh!

Sewaktu di Birmingham, saya baru tau kalau ternyata ada 12 seri Malory Towers,  padahal dulu kan hanya buku 1 sampai buku 6. Ternyata penulisnya memang berbeda, yaitu Pamela Cox. Menurut saya dan anak-anak, cara penulisannya nggak berbeda jauh, kok.   Nyambunglah, yah tentu saja selain karena settingannya sama banget yaitu si sekolah asrama idaman Malory Towers.

Malory Towers ini nama sekolah asrama putri di daerah Cornwall di Inggris. Kalau di peta Inggris, letaknya di bawah sana, di Selatan, dekat pantai. Kalau buku 1-6 tokoh utamanya adalah Darrel Rivers. Tipikal tokoh kesayangan pembaca, menyenangkan. Pinter meski ya nggak pinter banget, dan banyak teman. Sahabatnya yaitu sepupunya sendiri Alicia yang lebih bandel dan berani, semakin membuat hari-hari di Malory Towers seru.  Ceritanya memang berputar di bagaimana Darrel dan teman-temannya menikmati hari-harinya di malory Towers, menghadapi ujian, PR, olah raga, menghadapi guru-guru, kenakalan-kenakalan sederhana yang bikin hidup berwarna (bukan kenakalan yang bikin hidup sengsara yaaaa), enak dibaca deh.  Yang lucu sewaktu Gaoqi baca buku ini, ternyata yang paling berkesan malah Gwendoline yang menyisir rambutnya setiap hari sebelum tidur  100 kali agar rambutnya berkilat, dan Gaoqi mengikutinya hahaha. Kata Gaoqi, meskipun Gwendoline menyebalkan, tapi dia tau bagaimana menjaga kebersihan dan kecantikannya. Ngakak deh denger Gaoqi ngomong begitu.

IMG_6973

Nah mulai buku ke 7-12, ini karakter utamanya adalah Felicity, adik  kandung Darrel yang juga masuk Malory Towers. Tipikal Felicity sendiri ya mirip sebelas dua belas dengan Darrel. Baca buku begini emang bikin relaks, ya. Nggak ada yang mengejutkan, tapi membacanya menyenangkan karena sederhana. Dan buat kami dengan settingan UK,  bikin imajinasinya terpampang nyata membayangkan seragam mereka dan cuacanya serta keadaan yang digambarkan. Dan kalau ingat Gwendoline yang menyebalkan di sepanjang buku 1-setengah buku 6 (karena kemudian kan kita kasihan juga ya sewaktu ayahnya sakit dan dia nggak sekolah), di buku yang terakhir dari Pamela Cox ini, Gwendoline masuk jadi guru di Malory Towers.

IMG_6974

ST CLAIRE’S (kalau nggak salah bahasa Indonesia SI KEMBAR ya)

Nah St Claire ini tentang dua bersaudara juga, tapi yang ini kembar yaitu  Patricia dan Isabel O’Sullivan  di sekolah berasrama St Claire. Tipikal ceritanya tentu saja mirip-mirip dengan Malory Towers.  Ada tambahan buku juga yang baru ditulis Pamela Cox, sehingga semuanya ada 9 buku

45

7

THE NAUGHTIEST GIRL (ATAU SI BADUNG di versi Bahasa Indonesia)

Nah, meski ini mengenai kisah di sekolah asrama juga,  ada sedikit perbedaan karena karakter utamanya ‘bandel’ banget awalnya.  Elizabeth Allen adalah tokoh utama dari seri ini. Elizabeth ini anak tunggal yang dimanja banget dan sikap nyebelinnya sampai membuat governess dia nggak tahan dan pergi. Akhirnya diputuskan Elizabeth dimasukin ke  sekolah asrama,  dan tentu saja awalnya dia menolak. Dia memutuskan akan bersikap lebih nakal lagi, dengan maksud agar dikeluarkan dari sekolah. Tapi lama-lama ternyata Elizabeth mulai menyukai sekolahnya, bersama teman-teman barunya. Dan tentu saja, adanya aturan di dalam hidupnya malah membuat hidupnya lebih berwarna dan bermakna, kan

123

Dari ketiga series ini, favourit Gaoqi adalah Naughtiest Girl, karena menurut dia ini yang paling lucu, dan settingan asrama sekolahnya lebih ‘modern’ kali, ya.

Mumpung nanti ada Big Bad Wolf, kalau bisa nitip dan beli buku-buku ini, worth to buy banget!  Seru buat anak-anak ceweknya, dan bisa buat nostalgia buat emak-emaknya.

Jonny Duddle – Pirate Series

IMG_6361

Ada 6 buku karangan Jonny Duddle yang ada di rumah, 4 di antaranya mengenai  pirates atau bajak laut. Buat yang punya anak-anak cowok , biasanya yang suka cerita bajak laut.  Jadi dari 6 buku si Jonny yang kita bahas duluan di sini yang bajak laut seriesnya dulu ya. Si  Gigantosaurus dan King of Space nanti deh nyusul. Seri bajak lautnya ada 4 buku, nggak usah dibaca berurutan juga nggak papa, sih.

  1. The Pirate Cruncher
  2. The Pirates Next Door
  3. The Jolley Rogers -The Ghostly Galleon
  4. The Jolley Rogers – and The Cave of Doom

Buku  1 dan 2 lebih ditujukan untuk anak-anak di bawah 5 tahun, yang masih dibacakan ceritanya atau sekaligus buat belajar baca.  Yang juara dari karya karya Jonny Duddle ini adalah ilustrasinya yang dia buat sendiri juga, hidup dan enak dipandang banget! Membahas gambarnya aja bakalan seru buat anak-anak.

IMG_6333

Kita mulai dari yang The Pirate Cruncher ya.

Ceritanya sederhana, mengenai rombongan Bajak Laut yang mau mencari harta karun, karena pimpinan Bajak Laut yang tertarik dengan lagu yang dinyanyikan oleh seorang  bekas bajak laut tua . Syair lagu tersebut menyebutkan ada harta karun di laut sana, dan dia punya petanya. Di perjalanan, mulai ada anak buahnya yang takut tapi si pimpinan Bajak Laut tetap nekat pergi, dan akhirnya memang malah celaka.

IMG_6352

Sejujurnya, kalau secara cerita, ini bukan cerita yang enak diceritakan saat pertama kali untuk anak-anak. Kenapa? Karena gambarnya cenderung gelap, ceritanya juga kok ya seperti ‘nanggung’ dan sejujurnya agak susah nyari moral of the story-nya hahaha. Secara kalau buku anak-anak ya, lebih menyenangkan kalau moral of the storynya itu konsekuensi positif atas hal baik yang dilakukan, daripada konsekuensi nefatif atas hal buruk yang dilakukan seseorang, kan.

Nah karena awal-awal dan sebagian gambar-gambarnya gelap, mungkin itu yang bikin Gama biasa aja ke buku ini, nggak pernah dia minta dibacain ulang, berbeda dengan buku yang satunya lagi. Ditambah lagi, untuk anak yang belajar membaca, tulisan di buku Pirate Cruncher ini agak sulit dibaca fontnya.  Untuk selingan baca Ephraim dan Gaoqi sih mereka kayaknya oke aja, dan mereka udah bisa ‘menangkap’ keseruannya dan menikmati gambar-gambarnya.

IMG_6353

Bagian yang agak terangnya mungkin yang seperti ini. Tapi endingnya ya menurut saya agak mengenaskan, ya.

Jadi, kalaupun suka dengan Bajak Laut, kalau menurut saya jangan jadikan buku ini buku pertama yang dibaca.

Nah, buku yang The Pirates Next Door ini yang highly recommended.

IMG_6334

Lihat gambar depannya aja menyenangkan, ya. Warna di dalamnya juga lebih terang, tulisannya lebih jelas buat anak-anak yang mulai senang membaca, dan ceritanya saya suka! Jadi ceritanya di kota Dull on Sea, kedatangan keluarga baru yang pindah sementara ke kota kecil itu. Keluarga baru ini bukan keluarga biasa, karena merupakan keluarga Bajak Laut yaitu The Jolley Rogers yang terdiri dari Bapak, Ibu, Jim dan adiknya yang dipanggil Nugget. Mereka tentu saja bajak laut yang baik.

IMG_6336

Setiap lihat gambar ini dan jalanan serta lautnya itu, kita inget dengan perjalanan ke Pembrokeshire hihihi, seneng deh melihatnya. Inggris banget, yaiyalah ini kan pengarang Inggris.

IMG_6339

gambar-gambar rumahnya juga hidup banget.  Pas melihat gambar rumahnya dan penggambaran desa Dull on a Sea nya, ini kami membayangkan daerah Whiternsea yang sempat kami datangi, yang katanya saat Spring dan Summer ramai oleh turis dan saat Winter dan Autumn sepi nian.  Tipikal kota kecil di Inggris, yang sedikit banget anak kecilnya. Salah satu anak kecil di sana bernama Matilda, yang kemudian senang saat ada tetangga baru pindah ke samping rumahnya, yaitu Jim si anak bajak laut.

IMG_6342

Seru buat Matilda dan Jim, tapi bukan hal yang seru untuk orang tua Matilda dan tetangga tetangga mereka lainnya, yang merasa keberatan dengan keberadaan Bajak Laut di lingkungan rumah mereka. Ada aja keluhannya, yang katanya bajak laut jorok lah, ributlah, dan makin lama makin lebay deh keluhannya.

IMG_6343

IMG_6344

Yah lihat sendiri gambaran ‘keluarga’ Jolley Rogers ini yah, gimana nggak bikin deg-degan ortu kan tampilannya. Tapiii…sebenarnya mereka keluarga yang baik.  Ceritanya seperti cerita anak-anak lainnya, sederhana dan mengajarkan jangan menilai dari tampilan, karena tiap orang punya latar belakang berbeda (Ya kan tampilan bajak laut memang begitu hahaha). Sekali lagi, gambarnya juwara! Sukak deh!  Ini buku favourit Gama banget, ya karena ceritanya dan karena gambarnya.

Nah kalau dua buku di atas lebih untuk anak-anak 5-6 tahun, buku novel kecilnya seri Jolley Rogers ini  lebih untuk anak-anak kelas 1-4 SD barangkali, ya. Meski tebal seperti novel, gambar di dalamnya cukup banyak dan tulisannya besar. Kedua buku ini masih dengan tokoh utama keluarga Jolley Rogers dan Matilda (tilly).

Buku yang pertama adalah The Jolley Rogers and The  Ghostly Galleon

IMG_6356

IMG_6358

Ceritanya diawali dengan kerusakan di dalam Museum Dull-on-Sea tanpa ada petunjuk sidik jari yang tertinggal.  Ini bukan kejadian pertama, dan pihak berwajib juga kebingungan, dan kejadian ini selalu muncul saat bulan purnama. Hal ini tentu saja membuat penduduk Dull-On-Sea ketakutan. Matilda lalu menghubungi Jim dan minta bantuan Jim, ternyata banyak hal tak terduga di dalam petualangan mereka. Meski mengenai Bajak Laut, tapi teknologi modern juga dimasukkan dalam ceritanya. Oh ya kalau ada istilah-istilah bajak laut yang agak bingung, di buku dikasih semacam glossarynya kok dan lucu-lucu juga.

Buku kedua yaitu  The Jolley Rogers and The Cave of Doom

Di buku kedua ini, adalah petualangan The Jolley Rogers dan Matilda yang diawali karena mantra dari tiga penyihir di Dull-On-Sea yang senang mengoleksi barang bernuansa Bajak Laut. Saat terdampar karena mantra tersebut di tepi pantai Dull-on-Sea, Jim masuk ke dalam gua dan terperangkap di dalamnya.  Untungnya anjing Jim berhasil memberikan pesan kepada Tilly,  untuk menyelamatkan the Jolley Rogers.

IMG_6357

 

IMG_6359

Nah tulisan di tiap lembarnya lumayan besar dan enak dibaca , karena bervariasi, meski kertasnya juga tetap hitam putih nggak berwarna.

Ephraim dan Gaoqi sama-sama suka buku ini, kalau Gama ya tentu saja masih berkutat di The Pirates Next Door.

Oh ya, Jonny Duddle ini juga yang menggambar ilustrasi Harry Potter yang versi kartunnya, loh. Gambarnya khas, meski kartun tapi detail dan enak dilihat. Karakter gambar-gambarnya kuat, bikin anak-anak senang melihatnya.

Wonder

by R.J Palacio

zwonder

pic taken from weekendnotes.com    Lupa moto sampul depannya, bukunya masih dipinjam saat ini sama sahabat tersayang.

IMG_2952

I love books, by the way. way more than movies. Movies tell you what to think. A good book lets you choose a few thought for yourself. Karen Marie Moning

From my point of view :

Ini salah satu buku yang bagus banget dibaca, sebenernya untuk para orang tua dan untuk anak-anak seusia Auggie, tokoh di buku ini. Ceritanya mengenai Auggie, seorang anak yang mempunyai sindrom penyakit langka yang menyebabkan wajahnya tidak seperti anak-anak pada umumnya. Meski sudah melewati belasan kali operasi, wajah Auggie tetaplah merupakan wajah yang membuat terkejut orang yang melihatnya untuk pertama, kedua dan kesekian kali. Perlu beberapa waktu untuk terbiasa melihat wajah Auggie. Dan itu menjadi salah satu ‘pergulatan’ yang dilewati tiap karakter di buku ini,  yang akan diungkapkan saat bertutur dari sudut pandang masing-masing, dengan gaya masing-masing. Buku ini berpusat pada cerita saat Auggie mulai masuk ke sekolah umum. Dikemas dengan ringan  tapi berisi.

Penulisan buku ini dari sudut pandang Auggie, ibunya, kakak Auggie yaitu Via, Samantha tema Via, Jack dan Summer sahabat Auggie, dan juga dari Justin pacar Via nantinya. Saya suka cara penggambaran ini, karena jadi bisa menangkap betapa kaya dan beragamnya perasaan manusia. Hati orang siapa yang tahu dalamnya, gitu. Tiap karakter menuturkan hal-hal yang mereka rasakan, dan mereka ketahui, dan kita akan semakin menyadari bahwa setiap orang punya alasan untuk apa yang dilakukannya, dan kadangkala saat kita mengetahui alasan alasan tersebut, kita akan lebih memakluminya.  Buku ini bertutur dengan jujur, mengenai perasaan tiap tokoh. Bagaimana Viaa yang meski cintanya pada Auggie tidak usah diragukan, ternyata juga merasakan bahwa dia hanyalah sebagai satelit yang berputar di pusat semesta keluarganya, yaitu Auggie. Saya suka bagaimana  Via bercerita kenapa dia sangat suka dengan neneknya, karena di mata neneknya dia adalah cucu kesayangan. Rasanya pengen peluk Via yang kelihatan tabah, dan sering merasa bersalah saat ‘menginginkan’ perhatian karena merasa dirinya toh tidak ‘semenderita’ Auggie. Suka dengan cara neneknya yang ‘menangkap’ perasaan Via, di saat mamanya Auggie salah satu sang superhero kita tidak bisa menyadarinya. Memaklumi dan pengen peluk mamanya Auggie juga karena membaca bagaimana dia melewati masa-masa mulai dari kehamilan tentang Auggie dan setiap operasinya yang menguras perasaannya. Dan pengen peluk bapaknya Auggie yang lucu, fun dan sangat suportif .

Buku ini adalah buku yang bikin saya pengen memeluk satu-satu karakternya, mau bilang terimakasih sudah menguatkan dan terimakasih karena menjadi human, yang punya banyak salah tapi berusaha melakukan yang terbaik. SUKAK!

Selipan humor humornya juga menyenangkan, nggak basi.  Favourit saya dan krucils ada beberapa yang lucu banget.

  1. Saat Jack yang sudah mulai akrab dengan Auggie, dan Jack bertanya apakah Auggie nggak kepikiran melakukan bedah plastik untuk wajahnya, dan Auggie dengan santai menunjuk wajahnya sambil bilang “Dude, ini udah dioperasi loh,” dan mereka cekikikan sambil bilang harusnya dokternya dituntut, tuh.
  2. Saat Jack, Summer dan Auggie ngobrol mereka sampai pada kesimpulan kalau kata mamanya Summer, nggak usah dululah pacaran di usia mereka. Auggie dengan muka pede lalu menjawab, “Yeah, susah banget kan, apalagi dengan kondisiku saat ini di mana setiap cewek kayaknya pengen ngedeketin aku,” dan langsung ngakaklah Summer dan Jack (dan kami yang membacanya tentu saja)
  3. Saat Jack dan Auggie baikan lalu Auggie bertanya ke Jack “Apa bener kalo kamu jadi aku, kamu bakal bunuh diri?” dan Jack bilang “Nggak, but if I were Julian, I will,” dan kita semua juga ketawa bacanya.

Nah yang joke-joke kecil begitu bikin cerita ini segar.  Sedangkan hal-hal kecil seperti bagaimana saat mamanya Auggie menanyakan soal Julian, atau saat Jack memutuskan untuk mengiyakan permintaan Mr Tushman karena mengingat bahwa adiknya yang baik aja bisa takut melihat Auggie, atau saat bapaknya Auggie menyembunyikan helm astronoutnya, nah detail seperti itu yang bikin cerita ini so sweet dan mengharukan tanpa menye menye. Oh ya, kutipan kutipan di buku ini juga banyaak yang bagus. Yang paling terkenal emang yang  “If you have the choice between being right or being kind, choose kind,”

IMG_2904

Mengenai filmnya, well filmnya lumayanlah ya.  Sedangkan bukunya mah bagus banget  hahaha. As usual, banyak di buku yang nggak ketangkep di film. Karakter Summer di film kurang nendang, karakter Julian juga. Dan entah kenapa karakter Via di film kok jadi cenderung menyebalkan, karena kita cuma lihat luarnya. Bapaknya di fim juga nggak keliatan lucu banget kayak di buku, mamanya juga ya oke tapi ngga seoke bukunya. Tapi not so bad kok, terima ajalah ya. Yang paling fatal itu sih di filmnya menurut eikeh adalah soal kematian anjingnya yang di film kayak selewat aja. Padahal di bukunya, Daisy anjingnya itu termasuk tokoh utama dan bikin kita mewek pas dia mati.  Mewek karena ikut mewek sama mamanya Auggie, sama bapaknya Auggie, sama Via, dan sama penggambaran Auggie, bahwa di antara semua mahluk hidup di dunia, Daisy anjing mereka adalah satu-satunya yang tidak melihat Auggie berbeda dengan manusia lainnya. Dia tidak menganggap Auggie ‘spesial’  karena sebagai anjing, dia hanya melihat Auggie dan wajahnya, sama seperti manusia lainnya. Nangis banget deh pas baca dan menyadari hal itu. Bagaimana dicintai tanpa syarat itu adalah kebutuhan dasar hati tiap manusia , ya . (sambil bilang terima kasih Tuhan untuk Your Unconditional Love)

Recommended banget buku ini! Waktu itu buku ini dibeli di Gramedia Mal Kelapa Gading. Harga 160 ribu.

Ephraim’s review :   I like it because I can see from almost all the character’s point of view.  My favourite  character (beside Auggie for sure) is Jack, and then Daisy the dog of course!  My favourite scene is when they got bullied in the camping site but then they made it to escape and run, and then make friends with Amos, Henry and Miles, the ones that hates Auggie before. About the movie?  Well, it’s so-so, but I think the movie spoiled the book, though.

Gaoqi’s review :  It’s a good book. My favourite is the beginning part, when Auggie when to school the first time. It is so funny when the met  Jack, Julian and Charlotte for the first time, he looked down cause he’s shy so he looked down, at their shoes and when he saw Julian’s shoes he thought “Hmmm..this is a rich boy,” , when he saw Jack’s shoes he thought “hmm..poor kid,”  and when he saw Charlotte, he thought something like “hmmm…crazy (or things like that) kid,” It is so funny for me, cause Auggie can try to calm himself with his own way, he tried to distract himself though he feel afraid.  And I love the movie, a lot. It’s just so real for me.

Lucu ya beda cara pandang Ephraim dan Gaoqi dan buku yang mereka sama-sama sukai, tapi yang paling berkesannya ternyata berbeda.  Kami juga emang nggak ngajak Gama pas nonton Wonder.

IMG_3636

Handa’s Surprise

by Eileen Browne

Buku ini saya beli setelah sebelumnya tau isinya, dari perpustakaan sekolah Gaoqi di Birmingham, dan ini salah satu buku favourit dia pas Year 1. Pas ke kelasnya, sempat dijadikan thema buku of the month, dan saya nggak heran karena buku ini bagus banget untuk anak-anak year 1, usia 6-7 tahun, untuk mengajarkan budaya yang berbeda. Tokoh utamanya adalah Handa, anak perempuan dari Afrika. Latar belakangnya adalah pedesaan, dan memperkenalkan banyak buah yang berasal dari negara tersebut.

Ceritanya sederhana, tapi mengena dan so sweet menurut kami. Seingat saya, Gaoqi bahkan ‘mengirim’ surat ke pengarangnya, salah satu homeworknya saat thema buku ini.  Jadi nggak ragu pas beli buku ini, karena juga bagus dibaca Gama dan yah buat Ephraim yang sudah melaju baca buku buku fiksi anak yang novel, ini juga bolehlah dibaca sambil-sambilan.

IMG_5806

Handa put seven delicious fruits in a basket for her friend, Akeyo. (cantik cantik ya namanya, Handa dan Akeyo). 

She will be surprised, thought Handa as she set off for Akeyo’s village.

Kalau melihat Gaoqi yang suka bikin sesuatu entah kartu, surat atau coklat bagiannya untuk menyenangkan orang, kayaknya dia suka buku ini karena buku ini confirm dengan apa yang dia percayai hahaha.  Handa berpikir mau membawa buah untuk memberi kejutan manis untuk sahabatnya, isn’t is sweet?

I wonder shich fruit she’ll like best? Will she like the soft yellow banana?

Nah sambil jalan, pikiran Handa ke sahabatnya, dan pas dia nyebut banana, ada si monyet yang di atas pohon dan mengambil pisang dari atas kepala Handa. Bagian-bagian para binatang mengambil setiap buah yang disebut Handa ini bisa jadi cara interaktif sama anak-anak pas kita bacakan ceritanya. Kita tanyain, mana pisang yang diambil? Si monyetnya lagi di mana? Kok bisa dia ambil pisangnya? Kenapa Handa tidak menyadari kalau monyet ambil pisangnya? Dsb dst, dan nanti di scene scene berikutnya anak-anak biasanya udah mulai semangat ikutan menceritakan dan menebak.

Or the sweet smelling guava?  Trus ada burung unta yang mengambil si jambu.

Will she like the round juicy orange? Dan si zebra mengambil jeruknya.

or the ripe red mango?  Dan si gajak mengambil mangganya. Oh ya, berkali kali beli mangga yang dari Afrika di pasar Birmingham, warnanya pas matang emang merah kayak apel washington. 

Will she like the spiky-leaved pineapple…  Trus si jerapah mengambil nanasnya.

the creamy green avocado.….  lalu si rusa bertanduk mengambil alpukatnya.

or the tangy purple passion fruit?  Dan si burung mengambil manggisnya.  Pertama kali saya dengar kata ‘tangy’  sewaktu anak-anak makan nanas dan mereka komentar suka makan nanas yang waktu itu rasanya segar-manis-sedikit asam hihihi, itu bener bener vocab baru buat eikeh.

Which fruit will Ayeko like best? Sesederhana itu mungkin captionnya, tapi saya suka karena sepanjang jalan itu Handa memikirkan apakah temannya akan menyukai apa yang ia bawa. Sewaktu membawakan buah-buah itu, niat dia membawa yang terbaik untuk temannya.  Dan pas di halaman di atas ini, ada kambing yang lepas dan menubruk pohon , dan menjatuhkan tangerine (jeruk kecil) ke atas tempat buah di kepala Handa.  Saya cerita ke anak-anak saat membacakannya, bahwa kalau niatan kita baik, Tuhan pasti pakai caraNya juga untuk menggenapi agar rencana kita itu terlaksana. Dan dengan jauh lebih baik,  dengan cara yang mungkin di luar kemampuan berpikir kita.

“Hello, Akeyo,”said Handa, “I’ve brought you a surprise,”

“Tangerines!” said Akeyo, “My favourite fruit,”

“TANGERINES?” said Handa. “That is a surprise!”

IMG_5829

Aaaah, seneng banget kan bacanya. Buku sesimpel ini dibacain berkali kali menyenangkan, dan bisa dibahas untuk mengajarkan banyak hal.  Gambar-gambarnya bisa mengajarkan kebudayaan yang berbeda, lihat gambar anak-anak kecil di kampung Akeyo yang menggendong anak-anak, trus cara menggendongnya juga gimana, trus mengajarkan kindness juga.

Highly recommended!

May3rd 2018. Baru aja menemukan foto surat Gaoqi di sekolahnya yang dulu, saat menulis surat untuk pengarang buku Handa’s Surprise ini.

Dear Eileen Browne, 

I think your books are amazing. I like them because you use lots of describing words. My favourite part was when the goat hits the tree and tangerines fell in the basket.

Where did you get the ideas from? Who drawed drew the pictures in Handa’s Surprise? Why do did  you want to be an author? What authors do you like? Have you eaten  a guava or a tangerine? Have you been to Africa? Do you have a friend in Africa? I think you are a great author.  Are you going to write another story about Handa? Do you know anything about Africa?

The illustrator is very good at drawing.  You are a good author.

Yours sincerely, Gaoqi.20170713_161744.jpg

Ten Little Fingers and Ten Little Toes

by Mem Fox and Helen Oxenbury

Ini lagi-lagi agak cheating, karena ini diambil di jurnal  blog private eikeh hahahah, soalnya termasuk resolusi 2018 punya jurnal yang berguna even for a few people only, macam di pembukaan blog ini loh yang kutulis dulu itu loh. Kalo si  blog eserpe ya tetap akan jadi private blog, di mana eikeh super-sharing segala hal pribadi hahahaha ,  nah di sini bakal minim foto keluarga tentunya, karena emang diniatkan buat buku (dan hal-hal berguna lain jika ada). Gakpapa ya membangkitkan kembali niatan baik ini di tahun 2014. Nyesel belakangan nih, pas di Birmingham dua tahun nggak rajin posting di sini padahal kan rajin baca buku di sana yak.  Gapapa deh bukunya banyak dibawa kok, jadi siap-siap bakal rajin deh ngereview full spoiler di sini yak .

Oh ya, ini diposting di jurnal pribadi di tahun 2015, makanya itu bekgronnya juga masih di kos pas masa-masa ngekost di Benhil sama Gama tersayang selama 6 bulan hahaha.

Di kost hanya 4 buku anak-anak yang dibawa. Love You Forever, Good Night Moon , Little Bible dan yang jadi favourit Gama sekarang si Ten Little Fingers and Ten Little Toes. Sama seperti buku bayi-toddler lainnya yang banyak perulangan seperti Good Night Moon, si Ten Little Fingers ini tulisannya juga banyak perulangan kalimat. Halaman bukunya tebal, jadi Gama enak membolak baliknya.

ImageSetiap halaman hanya ada satu kalimat, dan gambarnya bagus. Bayi-bayi lucu. Dari awal Gama sudah suka deh sama buku ini, beda sama buku lain yang dia suka seiring waktu karena sering dilihat atau sering dibacakan macam Love You Forever.

Buku ini menunjukkan ada bayi dari kota, ada di desa. Ada bayi yang tinggal di tempat dingin dan di tempat panas macam gurun. Mungkin yang agak nggak pas karena kalimat ‘all these little babies have ten little fingers and ten little toes”,  karena ada juga kan anak-anak yang tidak mempunyai jumlah jari kaki atau tangan 10. Tapi untuk membuat anak tertarik karena rhyming bolehlah.

Meski favourit,  ya Gama tetap masih suka di halaman-halaman tertentu ya, misalnya halaman yang ada gambar tangan dan kaki anak kecil yang bikin dia di halaman itu langsung menunjuk tangannya dan kakinya juga. Aduh malah lupa moto halaman itu. Atau halaman ini karena ada ada gambar pinguin dan ayamnya. Gama suka banget nunjuk nunjuk si pinguin dan ayam ini

ImageSebenarnya mau mengajarkan keberagaman juga, ya.

Tapi favourit mamaknya adalah bagian yang iniiii…

ImageBut the next baby born was truly divine, a sweet little child who was mine, all mine

Dan kalo ada yang nanya apa nggak bosen ya bacain yang 4 buku itu melulu…ya boseeeen…tapi nggak ada pilihan kan ihik soalnya pas ganti ke buku lain, anaknya malah nggak mau ihik.